BERITA POPULER

Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial


Aksi Keji PKI Begitu Nyata! 
Lebih dari 35 Saksi Angkat Bicara

Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) penuh darah kekejaman di mana-mana. Mereka menyiksa, membakar, menyembelih, serta mengubur hidup-hidup para kiyai dan santri, menghasut para petani untuk berontak serta merampas harta-harta semua golongan yang tidak sepaham komunis.

Semua tindakan PKI hanya untuk satu tujuan: Mengganti Indonesia menjadi negara komunis. Negara anti Tuhan dan anti insan ber Tuhan yang berlambang palu arit.

Dengarkan Cerita Para Saksi dan Korban 

Ingatan mereka akan sejarah kekejaman PKI tak ‘kan terhapuskan. Trauma demi trauma yang siapapun tak ingin mengalaminya. Mereka hanya ingin  berbicara kepada kita. Maka dari itu, dengarkanlah…
  • Genangan Darah Setinggi Mata Kaki

    “Genangan darah ratusan korban pembantaian PKI di sebuah loji (gedung) di Pabrik Gula Rejosari Gorang Gareng, Magetan, pada September 1948, setinggi mata kaki. Mereka diberondong senapan mesin oleh tentara merah PKI”.
    Kyai Zakariya, saksi peristiwa Gorang Gareng 1948.
  • 30 Orang Dibakar Hidup-hidup dalam Loji

    “Sebanyak 30 orang tokoh dan para kyai dimasukkan kedalam loji, diberi makanan beracun lalu dibakar hidup-hidup. Ketika berhasil membobol pintu berantai setelah berdoa dan berteriak Allaahu Akbar, mereka dibacok dengan pedang”.
    Siti Maisaroh, anak korban selamat peristiwa Ngawi 1948.
  • Ayah saya Dikubur Hidup-hidup di Sumur

    “Kyai Soelaiman Zuhdi Afandi, dikubur hidup-hidup bersama 200 orang kyai, santri dan masyarakat di sumur tua di Desa Soco”.
    Kyai Ahyul Umam, putera Kyai Soelaiman, korban peristiwa Soco 1948.
  • Diseret ke Hutan Lalu Dijatuhkan ke Jurang

    “Bapak saya beserta enam orang pemuka agama yang jadi sahabatnya diseret dan dibawa ke hutan. Lalu dibunuh dengan cara dilempar ke jurang dan dihujani batu”.
    Sartono, anak Carik Ismail, peristiwa Ponorogo 1948.
  • Tubuh Ayah Saya Hanya Bisa Dipunguti dan Dimasukkan Kaleng

    “Ayah saya diseret ke sawah sambil dipukuli beramai-ramai. Setelah saya cari ke mana-mana tidak ketemu ternyata jasadnya terbuang di sawah. Tubuh bapak saya tidak berbentuk lagi, hancur habis terbakar dan dimakan anjing. Potongan tubuhnya hanya bisa dipungut satu persatu dan dimasukkan kaleng.”
    Isra’, Surabaya, saksi dan anak korban peristiwa 1965.
  • Saya Selamat tapi Empat Sahabat Saya Disiksa hingga Tewas

    "Tetangga yang sering saya bantu itu, ternyata suaminya pimpinan PKI. Saya mau disembelih jam satu malam. Alhamdulillah selamat. Tapi anak perempuan pertama saya meninggal setelah malam itu saya menyelematkan diri melewati sungai. Empat sahabat saya sesama aktifis dakwah disiksa dengan dipotong kemaluan dan telinga mereka hingga meninggal".
    Moch Amir, SH, Surakarta, korban peristiwa 1965.
  • Kakak Saya Dipotong Telinganya Lalu Dibuang ke Sumur

    "Para tokoh Islam dari Masyumi di Ponorogo diciduk dan dinaikkan truk. Kakak saya dipotong telinganya. Lalu dibuang di sumur tua".
    Mughni, Ponorogo, saksi korban peristiwa 1948.
  • Kapolres Ismiadi Diseret dengan Jeep Wilis Sejauh 3 Km Hingga Tewas

    "Sebelum meletus peristiwa Madiun Affair, orang-orang PKI merampok dan membakar rumah-rumah para pedagang di Kauman, Magetan. Dilanjutkan pembunuhan terhadap para aparat. Kapolres Ismiadi diseret dengan Jeep Willis sejauh tiga kilo meter hingga tewas. Setelah tentara habis, gantian polisi dihabisi. Setelah itu pejabat dan ulama serta para santri".
    Kusman, sesepuh Magetan, narasumber peristiwa 1948.
  • Kakak Tertua saya Hilang Dibawa PKI

    "Setelah menggeledah rumah orang tua saya, kakak tertua saya dibawa PKI. Lalu tidak jelas kabarnya. Lima orang saudara sampai sekarang hilang tidak ditemukan"
    Mastur, saksi korban peristiwa Ponorogo 1948.
  • Sebanyak 200 orang Disekap di Lumbung Padi

    “Ayah saya seorang veteran pejuag 1945. Bersama lebih 200 orang lainnya, terdiri dari para kiyai dan tokoh masyarakat digiring dan dimasukkan ke dalam lumbung padi tua tinggalan jaman Belanda di Desa Kaliwungu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Mereka disekap dua hari dua malam tidak diberi makan. Semua aktifitas seperti tidur dan buang air jadi satu di dalam gudang yang penuh sesak. Jerigen-jerigen bensin sudah disiapkan untuk membakar lumbung itu. Alhamdulillah ayah saya bisa lolos dan berlari sejauh 20 kilo meter untuk mencari batuan pasukan Siliwangi. Mereka selamat”.
    Fuadi, anak korban peristiwa Ngawi 1948.
  • Buya Hamka Disiksa Setiap Hari

    “Buya Hamka, Ketua MUI pertama dan para ulama lainnya dipenjara di jaman Presiden Soekarno. Mereka dipenjara atas tuduhan tidak jelas. Hamka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan yaitu berencana membunuh Presiden Soekarno dan Menteri Agama. Hamka dan para ulama difitnah oleh kalangan PKI yang saat itu sangat dekat dengan Presden Soekarno. Setiap hari Buya Hamka disiksa dan diancam akan disetrum. kemaluannya”.
    Kyai Cholil Ridwan, murid Buya Hamka, saksi peristiwa 1964-1966.
  • Saya Dituduh Kontra Revolusi

    “Setelah saya ikut menandatangani Manifest Kebudayaan yang melawan LEKRA, lembaga kebudayaan yang berhaluan komunis, saya dituduh kontra revolusi. Tuduhan ini jika digambarkan jaman sekarang, jauh lebih menakutkan dibanding tuduhan teroris. Akibatnya, saya tidak jadi kuliah di Amerika karena visa tidak keluar. Gaji saya sebagai dosen langsung distop. LEKRA juga merancang pementasan seni Ludruk yang sangat menghina Islam seperti:”Matine Gusti Allah (Matinya Tuhan Allah)”, “Sunate Malaikat Jibril (Disunatnya Malaikat Jibril)”.
    Taufiq Ismail, Sastrawan dan budayawan senior. Korban dan saksi peristiwa 1963-1965
  • Ayah Saya Dibacoki, Dipukuli, Lalu Dimasukkan Sumur

    Ayah saya dan adik ayah saya bersama lima orang lainnya para kyai dimasukkan loji lalu dibakar. Mereka berhasil keluar. Setelah keluar bapak saya dibacoki. Bapak saya dipukuli. Bapak saya dimasukkan ke dalam sumur.
    Suradi, anak Sastro Glombroh, korban peristiwa Ngawi 1948.
  • Mencoba Melarikan Diri Enam Orang Langsung Dibantai

    Peristiwa pembantaian beberapa orang di Dusun Gebung, Katikan, Ngawi, sebetulnya ada enam orang yang berhasil keluar lewat jendela bangunan yang saat itu dibakar PKI. Namun, setelah di luar mereka dibantai dengan pedang dan jasadnya bertumpukan di dekat sumur.
    Jumairi, saksi peristiwa Ngawi 1948.
  • Kyai Dimyathi Disembelih dan Rumahnya Dibakar

    Saya sudah umur 16 tahun saat kejadian yang menimpa Kyai Dimyathi pada tahun 1948. Saat mengungsi Kyai ditipu oleh yang masih ada hubungan kerabat. Katanya, desa tempat tinggal kami sudah aman. Ternyata dia orang PKI dan membawa Kyai Dimyathi ke Ngrambe dan disembelih bersama seorang guru bernama Suwandi. Rumah Kyai Dimyathi dibakar.
    Siti Asiyah, anak asuh Kyai Dimyathi, peristiwa Ngawi 1948.
  • Ternyata Saya Akan Dibunuh oleh Tetangga dan Teman Baik Saya

    Setelah peristiwa 1965 mereda, saya diberitahu ternyata nama saya masuk daftar calon korban yang akan dibunuh PKI. Saya sudah kuliah dan aktif di PII saat itu. Tetangga persis di sebelah rumah saya dan teman yang saya kenal baik itu, ternyata PKI. Saat digeledah di rumahnya ternama nama-nama orang-orang yang rencananya akan dibunuh PKI.
    Zainudin, Kediri, saksi peristiwa 1960-1965.
Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial
Ada beberapa perdebatan (debatable) di internal umat Islam tentang maksud yang tertuang di dalam teks proklamasi NII, yaitu pada kalimat “Bangsa Indonesia”, sebagian berpendapat bahwa kalimat tersebut bersifat rasialis atau fanatik hanya terhadap bangsa Indonesia saja, tidak bersifat universal meliputi bangsa-bangsa lain sebagaimana yang ada dalam konsep ajaran Islam itu sendiri, dalam hal ini sering disinggung dengan memakai istilah ‘ashabiyah.
Dalam tafsir ini kita mencoba untuk menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, agar kiranya kita sebagai masyarakat Islam tidak keliru dan dapat memposisikan maksud dan tujuan dari penggunaan idiom ataupun penggunaan kalimat yang ada dalam teks proklamasi NII tersebut.
Secara etimologi kata ‘ashabiyyah berasal dari kata ‘ashabah yang bermakna al-‘aqaarib min jihat al-ab (kerabat dari bapak). Disebut demikian dikarenakan orang-orang Arab biasa menasabkan diri mereka kepada bapak (ayah), dan ayahlah yang memimpin mereka, sekaligus melindungi mereka. Adapun kata “al-‘ashabiyyah dan at-ta’ashshub” bermakna "al-muhaamat wa al-mudaafa’at” (saling menjaga dan melindungi). Jika dinyatakan, “ta’ashshabnaa lahu wa ma’ahu” : nasharnaahu (kami menolongnya)”. [Imam Ibnu Mandzur, Lisaan al-‘Arab, juz 1/602].
Ada beberapa kata yang berkaitan dengan kata ‘ashabiyah, diantaranya adalah dari kata ‘ashabah (kerabat dari bapak), al-‘Ashabiyah (fanatik golongan), ta’ashub (fanatik buta), ta’ashaba (pengencangan pembalut, dapat juga berarti perkumpulan atau ikatan). Di dalam literatur Hadits dan beberapa pendapat alim ulama, kata ‘ashabiyah bermakna kepada menolong kaum kerabat atas dasar kedzaliman.
Pendapat-pendapat para tokoh ulama dan ilmuan mengenai terminologi ‘ashabiyah ini sangat beragam, namun tidaklah mungkin kita akan mengurainya satu persatu, karena ruang lingkup pembahasan tafsir ini akan semakin melebar nantinya dari substansi tafsir yang akan dibahas, cukuplah beberapa pendapat saja yang kita paparkan, karena secara esensial pendapat-pendapat tersebut tidaklah jauh berbeda dari maksud yang terkandung di dalamnya antara satu pendapat dengan pendapat lainnya. Gambaran umum yang bisa kita lihat secara terminologi istilah ‘ashabiyah ini adalah berkaitan dengan urusan kekuasaan, karena di dalamnya terdapat subjek pembelaan, namun dari beberapa pendapat ulama, penggunaan maupun penafsiran kata ‘ashabiyah ini masih bersifat normatif, belum spesifik kepada konteks kekuasaan.
Jika kita mencoba menggali lebih jauh penggunaan kata ‘ashabiyah ini, dan mengkolerasikannya dengan padanan kata atau terminologi yang tepat dengan penggunaan bahasa hari ini dari beberapa literatur hadits yang menyinggung tentang kata tersebut, didalamnya terdapat kalimat-kalimat pembelaan terhadap nasab (keturunan) ataupun terhadap golongan-golongan tertentu secara fanatisme kekuasaan. Dalam sejarahnya di zaman Nabi Muhammad SAW, gambaran tentang ‘ashabiyah ini disandarkan kepada wujud kekuasaan Quraisy, dimana suku Quraisy adalah golongan bangsawan yang berhak sebagai pemegang kekuasaan atas Mekkah di waktu itu, juga terhadap beberapa suku-suku yang ada di waktu itu.
Secara spesifik dalam konteks kekuasaan kita dapat mendefenisikan bahwa yang dimaksud dengan kata ‘ashabiyah adalah: “kekuasaan yang dibangun berdasarkan kepada golongan-golongan tertentu”, dari defenisi ini dapatlah kita menyimpulkan sebuah padanan kata yang tepat dalam penggunaan kata ‘ashabiyah ini terhadap kolerasi bahasa yang popular yang berkembang di zaman sekarang, bahwa padanan kata yang tepat dari maksud penggunaan kata ‘ashabiyah ini dapatlah kita tafsirkan sebagai sebuah azas aristokrasi, atau kekuasaan yang disandarkan kepada golongan bangsawan. Beberapa literatur hadits maupun pendapat para ulama yang menjelaskan tentang ‘ashabiyah ini terhadap pembelaan-pembelaan tertentu, hal ini juga dapat ditafsirkan kepada azas oligarki (kekuasaan yang berdasarkan kepada sekelompok rakyat kecil) atau sekelompok orang yang menimbulkan kekacauan (anomy atau normlessness), namun dalam kenyataannya, azas oligarki dan anarki ini tidak bersandarkan kepada wujud kekuasaan yang jelas, hanya bersifat sementara terhadap kondisi perubahan sosial politik di dalam sebuah Negara.
Dalam buku yang pernah dituliskan oleh salah seorang founding father Idiologi dan Negara Islam, H.O.S. Tjokroaminoto, seorang tokoh filsuf dan politik Islam bangsa Indonesia, dalam Tafsir Program Azas dan Tandzhim PSII, menjelaskan bahwa azas kekuasaan yang dibangun oleh Islam itu berazaskan kepada Demokrasi Islam atau kekuasaan yang dibangun oleh rakyat yang berdasarkan Islam, bukan kepada ‘ashabiyah atau kepada aristokrasi sebagaimana yang telah kita urai diatas.
Dari uraian diatas kita dapat meyimpulkan maksud penggunaan kalimat “Bangsa Indonesia” atau pada kalimat “Umat Islam Bangsa Indonesia” itu bukanlah disandarkan kepada azas kekuasaan, namun hanya merupakan sebuah kalimat subjek atau predikat saja dalam mengumumkan kepada publik akan adanya sebuah kemerdekaan Negara atau lahirnya sebuah Negara Islam yang diproklamasikan atas nama Umat Islam Bangsa Indonesia, karena azas yang ada pada NII tersebut seperti yang telah dijelaskan oleh tokoh peletak dasar pemikiran Negara Islam (founding father) ini adalah Demokrasi Islam bukan berazaskan kepada ‘ashabiyah atau Aristokrasi, Oligarki, Theokrasi, Monarki, Tirani, Anarki, Anomy maupun terhadap azas demokrasi lain seperti Demokrasi Liberal, Demokrasi Komunis, Theo-Demokrasi dsb.
Mengenai hubungannya dengan bangsa-bangsa lain, hal ini telah tertuang di dalam Agenda Majelis Islam pada tahapan ke-7 (tujuh), yaitu tahapan membangun wujud persatuan bangsa-bangsa atau menjalin kerjasama dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia (khilafah fil-ardh), agar terciptanya keadilan diseluruh dunia dalam jalinan diplomatik antar bangsa yang kokoh dan berperadaban.


Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial

Penculikan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap Siyono persis dengan apa yang dilakukan Komunis diera '60 hingga '65an, yakni menculik dari mesjid dan akhirnya dibunuh dengan tubuh sikorban sudah luluh-lantak akibat penyiksaan. Cara-cara ini lazim dilakukan Komunis guna memberikan rasa takut, atau saat ini istilahnya teror. Patut diingat, apa yang menimpa kepada Siyono bukan baru dipraktikan, malah lebih jauh lagi cara-cara kekejiaan seperti ini pun juga kerap dilakukan diera kolonialisme oleh para penjajah kafir terhadap ulama-ulama pejuang kemerdekaan. Menculik, menyiksa dan membunuh sedari dahulu senantiasa mendera umat Islam yang teguh terhadap imannya. 

Kekejian yang dilakoni Densus 88 terhadap Siyono dapat mengancam integritas bangsa sebagai bangsa yang beradab. Hal ini pun sekaligus menjadi ancaman terhadap persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Densus 88 dan teroris sama-sama telah mempraktekan pelanggaran HAM berat seperti zionis Israel Laknatullah.

Menjadi satu catatan penting, Negeri bernama Indonesia ini dibebaskan dari penjajahan oleh para santri dan ulama. Para santri dan ulama melawan penjajah kafir demi Allah semata. Bukan karena kekuasaan dan kekayaan semata. Dan yang menumpas Komunis pun yakni santri dan ulama. Jadi sangat sederhana logikanya, siapapun yang melakukan praktik-praktik tercela seperti apa yang menimpa kepada Saudaraku Siyono, dapat dipastikan paradigma sipelaku dan kurawanya sama dengan penjajah kafir atau Komunis.

Ada paradigma kolonialisme yang keji di kasus pembunuhan Siyono, selain persekongkolan hitam yang menyelimutinya. Santri, ulama dan segenap pendekar kemanusiaan sudah saatnya mengungkap tabir gelap kebusukan ini. Demi kemanusiaan sejati sebagai ruh ideologi bangsa yang berketuhanan. Polri lahir setelah rakyat Islam membidani TNI dengan Laskar Sabilillah dan Hisbullah. Artinya, negeri ini milik Rakyat Islam yang membebaskan dari penjajahan kafir jauh sebelum Polri dan TNI lahir.

Menyoal Siyono, beliau adalah Rakyat Islam, Imam Mesjid yang shalih dan taat terhadap Allah Azza wa Jalla. Hanya orang berparadigma kolonialisme dan komunisme sajalah yang melakukan hal keji terhadap Siyono. Tak mungkin Polri yang lahir dari Rakyat Islam melakukan itu, kecuali ada kacung penjajah kafir dan Komunis bersembunyi disana demi mencerai beraikan integritas bangsa Indonesia.

Seiring pengungkapan terbunuhnya Siyono oleh Densus 88, akan ditingkahi dengan counter opini dari Persekongkolan Kontra Islam (PKI) yang menampakan paranoia akibat kebusukannya mulai terkuak. PKI tak'kan tinggal diam dengan diungkapnya penyebab kematian Siyono, karena pengungkapan kematian Siyono bagi PKI dapat menjadi gelombang yang mengancam eksistensinya dalam menindas Umat Islam Bangsa Indonesia. Hal ini patut diantisipasi dengan lebih mendekatkan diri kepada Alloh Azza wa Jalla dan terus menggelorakan wahdatul ummah di seantero Indonesia Raya. PKI tak'kan rela konspirasi kejinya terbongkar. Mereka dengan segala cara akan menutupi kejahatan kemanusiaannya. Kita harus cermat. Kita mesti terus fokus menguliti kedengkian mereka yang selama ini telah menodai kemanusiaan yang beradab sebagai falsafah bangsa ini. Kita tak perlu gentar dengan sesumbar arogansi mereka.

Kita dengan memohon pertolongan Alloh perlu tetap terjaga, menjaga dengan seksama proses penggalian kasus terbunuhnya Siyono yang saat ini Alloh mengamanahi kepada ikhwah kita di Organisasi yang dibidani oleh Mujahid Kemerdekaan Nasional, KH. Ahmad Dahlan. Kasus ini amatlah serius bagi kemanusiaan sejati yang kiwari bak sandyakala di negeri bekas jajahan Hindia Belanda. Siyono, seorang Muslim warga negara Indonesia telah menjadi korban keganasan jejaring imperialisme. Siyono, ia seorang imam mesjid yang shalih dan taat kepada aturan Dinulloh. Siyono, warga negara yang sama dengan kita untuk mendapatkan hak sebagai warga negara yang berdaulat. 

Terbunuhnya Siyono adalah simbol hak warga yang berdaulat atas kemerdekaannya direnggut secara paksa oleh alat kekuasaan. Ini kejahatan serius tingkat tinggi. Kejahatan yang dapat merusak tatanan kebangsaan. Terbunuhnya Siyono wajib diungkap secara terang benderang demi kemanusiaan sejati dan keberlangsungan hidup bermasyarakat. Bersama, mari kita kawal ikhwah kita di Organisasi Muhammadiyah untuk menguak misteri penganiayaan dan pembunuhan Siyono. 

Barakalloh. Alloh lah sebaik-baik makar. Billahi hayaatuna wallahu fii hayatil mustad'afin.




Penulis : Natayuda
Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial

Revolusi Islam adalah sebuah gerakan politik yang pada dasarnya sudah dimulai sejak tahun 1905 ketika didirikannya Syarikat Dagang Islam (SDI). Sebuah gerakan islam dengan basis sosio ekonomi di Jawa yang kemudian merubah bentuk gerakan menjadi organisasi social politik (SI hingga PSII) hingga menyebar ke seluruh Nusantara. PSII kemudian menjadi induk seluruh gerakan politikus islam di Indonesia, termasuk menjadi organisasi yang bertanggung jawab mengirimkan utusan ke Konferensi Islam Internasional di Hijaz dan Kairo.

Revolusi Islam yang dimotori PSII pada dasarnya hanya mempunyai satu tujuan, yaitu Kemerdekaan Umat Islam Bangsa Indonesia, bukan hanya kemerdekaan berpolitik, tapi lebih jauh dari itu, Revolusi Islam haruslah menjadi proses menuju berdaulatnya Umat Islam dalam melaksanakan syari’at DiinNya, berdaulat dalam satu tatanan politik yang disusun berdasarkan sunnah Rosulullah. Kedaulatan penuh dalam bentuk tatanan politik tertinggi, Kedaulatan sebuah Negara.

Revolusi Islam mencapai titik kulminasi tahun 1949, ketika diproklamasikannya Negara Islam Indonesia oleh Kartosuwirjo, dimana satu tahun sebelumnya telah dilaksanakan Konferensi Islam di Cisayong yang berhasil menyususn 7 program Revolusi, yaitu :

  1. Mendidik rakyat agar cocok menjadi warga negara Islam.
  2. Memberikan penerangan bahwa Islam tidak bisa di menangkan dengan Flebisit (Referendum, Pemilu dan sejenisnya)
  3. Membentuk daerah basis.
  4. Memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII).
  5. Memperkuat NII kedalam dan keluar, kedalam:Memberlakukan Hukum Islam dengan seluas-luasnya dan sesempurna-sempurnanya. keluar: Meneguhkan identitas internasionalnya,sehingga mampu berdiri swejajar dengan negara lain.
  6. Membanntu perjuangan muslim dinegara negara lain,sehingga mereka segera bisa melaksanakaan wajib sucinya,sebagai hamba Allah yang menegakan hukum Alloh di bumi Alloh.
  7. Bersama negarag–negara Islam yang lain, membentuk Dewan Imamah Dunia untuk memilih seorang kholifah, dan tegaklah KHILAFAH di muka bumi.
Revolusi Islam terjadi antiklimak ketika tahun 1960-an TII mengalami kalah  pertempuran paska strategi Pager Betis (Pasukan Gerakan Rakyat Berantas Tentara Islam) yang mengakibatkan beberapa Jendral Menyerah hingga Imam NKA NII Kartosuwirjo syahid di eksekusi melalui keputusan pengadilan yang kontroverisal. Maka setelah itu, gerakan Revolusi menjadi sebuah gerakan parsial dan klendestain (gerakan rahasia).

Upaya-upaya penyusunan kembali gerakan Revolusi terus dilakukan dengan berbagai cara, hingga kadang mengundang friksi bahkan konflik diantara para pimpinan pergerakan. Dan hamper seluruh pergerakan melakukan kolaborasi gerakan menurut ijtihad masing-masing kepemimpinan. Dampak positifnya adalah Pemerintah NKRI sebagai Darul Harb tidak mampu mendeteksi secara keseluruhan gerakan, dampak negatifnya adalah tidak pernah pergerakan setiap kepemimpinan tersebut melakukan gerakan sinergis antara satu dengan lainnya. Sehingga gerakan Revolusi Islam tidaklah berjalan secara effektif,

Tercerabutnya satu gerakan dari ideology gerakan yang seharusnya diyakini dan dijalankan oleh mereka adalah kesalahan fatal dalam satu gerakan politik. Apalagi gerakan politik tersebut sudah berwujud menjadi suatu Negara. Maka tidaklah ada orientasi lain dalam melanjutkan gerakan Revolusi ini kecuali mengembalikannya kepada basis paradigm gerakan yang sudah ditetapkan dan disepakati oleh para Pimpinan Negara. Yaitu Konstitusi Negara.

Konstitusi Negara adalah satu-satunya parameter gerakan atau aktifitas politik bagi siapapun yang terikat secara politik dengan Negara tersebut, Konstitusi Negara adalah aturan main berjalannya roda kepemimpinan didalam Negara tersebut sebagai Pemerintah Negara. Meskipun NII bukanlah Negara yang berdaulat penuh, akan tetapi rujukan dan parameter aktifitas politik pemerintahan tetaplah Konstitusi Negara. Karena Konstitusi Negara adalah Kesepakatan yang telah menjadi ketetapan politik secara legal formal satu-satunya. Jika ada gerakan politik yang keluar dan diluar aturan main konstitusi, maka gerakan tersebut menjadi illegal. Gerakan-gerakan Revolusi yang telah dilakukan sebelumnya di Indonesia paska kekalahan pertempuran 1962 banyak yang diluar aturan main konstitusi Negara, sehingga gerakan Revolusi tersebut tidak pernah mencapai puncak karena selalu premature, bahkan tidak pernah mencapai target Revolusi karena masing-masing gerakan mempunyai target yang berbeda.

Mengembalikan seluruh gerakan dan kepemimpinan kepada jalur Konstitusi yang benar menjadi suatu keniscayaan untuk berjalannya roda Revolusi secara total. Gerakan Revolusi parsial pastilah mudah dipatahkan, sedangkan Gerakan Revolusi Total yang dilaksanakan oleh seluruh elemen mujahidin di Indonesia tentulah akan membawa Islam (NII) menuju kedaulatan sepenuhnya.

Jaa’al Haqqo wa zahaqol Baathil, innal Baathilla kaana zahuuqoo….

Kebathilan (NKRI) akan musnah dan al Haqq (NII) kembali berdaulat adalah sunnatullah jika dilaksanakan sesuai sunnahNya. Sesuai ketetapan dari Allah dan RosulNya, yang kesemuaannya itu telah tertuang didalam Konstitusi Negara. Jika ada seorang Pimpinan Negara melaksanakan Revolusi dan perjuangan diluar daripadanya (qur’an, hadits, konstitusi) maka bukanlah akan membawa islam menuju kedaulatan di Indonesia, akan tetapi akan membawa Islam ke jurang perpecahan dan melemahkan Negara pada akhirnya. Sedangkan setiap individu APNII (Angkatan Perang Negara Islam Indonesia) berbai’at kepada Allah untuk memperjuangkan Negara ini (NII) yang tentu saja aturan mainnya sesuai dengan ketetapan Negara, bukan membuat ketetapan yang justru bertolak belakang dengan ketetapan tersebut. Disinilah titik tolak terjadinya kegagalan Revolusi ataupun sebaliknya, suatu keberhasilan yang gemilang bisa diraih jika dan hanya jika seluruh kelompok Mujahidin APNII kembali kepada garis ketetapan ini.

Apa yang dimaksud dengan berdaulatnya suatu Negara? Berdaulatnya suatu Negara secara de facto adalah ketika konstitusi Negara tersebut dilaksanakan oleh pemerintah dan rakyatnya secara keseluruhan. Maka jika Negara Islam Indonesia disebut berdaulat, Negara ini haruslah terlaksana konstitusinya di Indonesia. Baik dilaksanakan oleh Umat Islam Bangsa Indonesia, atau oleh seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada didalam teritorial Indonesia. Rakyat tidak lagi menggunakan konstitusi Jahil yang saat ini dipaksakan kepada Umat Islam oleh NKRI, ini adalah suatu penjajahan hukum dan ideology yang harus segera dihentikan. Maka tidak ada lagi dua konstitusi bagi Umat Islam Bangsa Indonesia, dan Konstitusi Islam yang telah ditetapkan di NII akan menjadi satu-satunya konstitusi bagi Rakyat Indonesia.

Inilah Target Revolusi sebenarnya, berdaulatnya konstitusi Negara (NII) dengan cara memperjuangkannya sesuai dengan garis-garis ketetapan Negara (Konstitusi) sehingga menjadi jelas parameter perjuangan untuk kembali mempersatukan paradigm yang sebelumnya terpecah menurut ijtihad masing-masing kelompok. Jikalah ada suatu hal yang mempersatukan seluruh perjuangan islam berserta para mujahidnya di Indonesia agar berjalan didalam shaff yang satu, maka yang menyatukannya itu hanyalah Konstitusi Negara. 



*Sumber: Jihad Is My Life
Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial

Sejarah telah mencatatnya dengan tinta emas, bahwa pada bulan Suci Ramadhan syarat dengan kesuksesan dan kemenangan gemilang yang diraih oleh Ummat Islam atas pertolongan Allah. Hal ini membuktikan bahwa Ramadhan merupakan bulan i'dad, bulan jihad, dan bulan kemenangan.

Berikut beberapa rentetan singkat peperangan sekaligus kemenangan gemilang yang terjadi pada bulan Ramadhan:

Ramadhan 2 H: Perang Badar
Ibnu Hisyam menyatakan perang ini merupakan kemenangan pertama yang menentukan kedudukan Ummat Islam dalam menghadapi kekuatan kemusyrikan dan kebatilan. Perang ini terjadi pada pagi Jum’at, 17 Ramadhan 2 H di Badar. Kemenangan lebih kurang 300 orang tentara Islam di bawah pimpinan Rasulullah Saw. ini mengalahkan lebih kurang 1000 orang tentara musyrikin Mekah.

Ramadhan 5 H: Perang Khandaq
Persiapan dilakukan dengan menggali parit (khandaq) sekeliling kota Madinah. Strategi ini tidak pernah digunakan oleh bangsa Arab. Hal ini diusulkan Salman Al-Farisy. Peperangan ini terjadi pada bulan Syawal dan berakhir pada bulan Dzulkaidah setelah pasukan muslimin berjaya memecah belah pasukan musuh.

Ramadhan 8 H: Fathul Makkah
Rasulullah Saw. keluar dari Madinah pada 10 Ramadhan dalam keadaan berpuasa. Mekah jatuh ke tangan kaum muslimin tanpa pertumpahan darah. Penaklukan itu terjadi pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

Ramadhan 9 H: Perang Tabuk
Pada tahun 629 M Rasulullah Saw. memutuskan untuk melakukan aksi preventif, yakni ekspedisi ke wilayah Tabuk yang berbatasan dengan Romawi. Setelah sampai di Tabuk, Ummat Islam tidak menemukan pasukan Bizantium ataupun seketunya.

Ramadhan 10 H: Ekspedisi Yaman
Rasulullah Saw. mengutus pasukan dibawah pimpinan Saidina Ali ra. ke Yaman dengan membawa surat Nabi. Satu suku yang berpengaruh di Yaman langsung menerima Islam dan masuk Islam pada hari itu juga. Mereka sholat berjamaah bersama Saidina Ali ra. pada hari itu.

Ramadhan 53 H
Kemenangan tentera Islam di pulau Rhodes.

Ramadhan 92 H: Pembebasan Spanyol
Paglima tentera Islam, Tariq bin Ziyad memimpin 12.000 tentera Islam berhadapan dengan tentera spanyol berjumlah 90.000 yang diketuai sendiri oleh Raja Frederick. Pada peperangan ini, untuk menambah semangat pasukannya, Tariq bin Ziyad membakarkan kapal-kapal perang mereka sebelum bertempur dengan tentera Raja Frederick. Beliau berkata, ”Sesungguhnya, syurga Allah terbentang luas di hadapan kita, dan dibelakang kita terbentangnya laut. Kamu semua hanya ada dua pilihan, apakah mati tenggelam , atau mati syahid.”

Ramadhan 129 H
Kemenangan atas Bani Abbas di Khurasan dibawah pimpinan Abu Muslim Al-Khurasany.

Ramadhan 584 H: Pembebasan Palestina
Panglima tentara Islam, Salahuddin Al-Ayyubi mendapat kemenangan besar atas tentera Salib. Tentera Islam menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh tentera Salib. Ketika bulan Ramadhan, penasihat-penasihat Salahuddin menyarankan agar dia istirahat kerana risau ajalnya tiba. Tetapi Salahuddin menjawab “Umur itu pendek dan ajal itu sentiasa mengancam”. Kemudian tentara Islam yang dipimpinnya terus berperang dan berjaya merampas Benteng Shafad yang kuat. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan.

Ramadhan 658 H: Perang Ain Jalut
Saat tentera Tartar memasuki Baghdad, mereka membunuh 1,8 juta kaum Muslimin. Musibah ini disambut oleh Saifudin Qutuz, pemerintah Mesir ketika itu dengan mengumpulkan semua kekuatan kaum Muslimin untuk meghancurkan tentara Tartar dan bertemu dengan mereka pada Jum’at, 6 September 1260 M di Ain Jalut. Peperangan ini turut disertai oleh isteri Sultan Saifudin Qutuz, Jullanar yang akhirnya syahid di medan pertempuran.

Ramadhan 1436 H
Perang apakah yang akan terjadi pada Ramadhan kali sekarang?
Apakah di Ramadhan kiwari Ummat Islam Bangsa Indonesia dapat menyatukan gerak dalam mewujudkan ad Dawlah al Islamiyah?
Apakah di Ramadhan saat ini kita dapat membebaskan Palestina, Iraq, Afganistan, Suriah, Ronghya dan Negeri-Negeri dimana terjadi penjajahan terhadap Ummat Islam?

Billahi Hayaatuna Wallahu Fii Hayati 'I-Mustadz'afin

Allahu Akbar…!

Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial
Setiap bangunan sudah seharusnya memiliki pilar yang menjadikannya mampu berdiri tegak diatas pondasi. Sebagus dan sekuat apapun pondasi suatu bangunan, ia tidak akan menjadi suatu yang berarti tanpa adanya pilar. Pilar-pilar tersebut berfungsi menyatukan dinding dan menyangga atap yang ada di atasnya. Di dalam bangunan seperti itulah, manusia dapat berteduh, tinggal dan mengambil manfaatnya.

Begitu juga dengan ekonomi Islam. Bangunan yang pondasinya adalah keagungan tauhid, kesempurnaan syariat dan kemuliaan akhlak ini, tidak akan nampak dan bermanfaat jika tidak ditegakkan pilar-pilarnya. Apa sajakah pilar-pilar itu? Tulisan ini akan mengulas secara singkat tentang pilar-pilar ekonomi Islam menurut para ahlinya di Indonesia.

Pendapat Para Ahli

Adiwarman Azwar Karim, anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia menjelaskan, terdapat tiga pilar dalam sistem ekonomi Islam. Pertama, meninggalkan seluruh unsur-unsur yang dihukumi haram menurut syariat Islam, misalnya, riba (bunga). Kedua, prinsip keseimbangan antara sektor riil dengan sektor keuangan. Menurut Adiwarman, ketidakseimbangan dalam sistem ekonomi dapat mengakibatkan bubble economy pada sistem ekonomi kapitalisme. Ketiga, prinsip proses transaksi jual-beli yang adil, tidak menguntungkan satu pihak merugikan pihak yang lain.

Sementara itu, Hendri Tanjung dalam penelitiannya berjudul “Apakah Bank Syariah Membuat Ekonomi Stabil? Suatu Pendekatan Teori dan Model Matematika serta Implikasinya” menyebutkan 3 pilar ekonomi Islam. Pilar tersebut diungkap dalam Qs Al-baqarah 275-277, yaitu : Sektor Riil (jual Beli), Lembaga Keuangan bebas Riba, dan Zakat. Penelitian ini mendapat penghargaan sebagai Juara pertama untuk kategori Peneliti Madya dalam Forum riset Perbankan Syariah V di Universitas Muslim Indonesia.

Agak berbeda dengan Hendri, Muhaimin Iqbal menjelaskan adanya 4 roda ekonomi Islam dalam bukunya ‘Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham’. Dalam buku tersebut Iqbal menyatakan bahwa kemakmuran sebagai tujuan operasional ekonomi Islam, hanya akan terwujud melalui 4 pilar ini. Pertama, alat tukar yang adil berupa uang yang stabil (dinar & dirham). Kedua, sistem pembiayaan yang bebas riba berupa kerjasama atau kontrak dagang berbentuk qirad dan syirkah. Ketiga, pedagang yang amanah dan pasar yang terbuka (fair trade bukan free trade). Keempat, profesionalisasi pengelolaan distribusi harta (melalui zakat, infaq, shadaqah dan wakaf).

Sektor Ril versus Riba
Dari pendapat-pendapat tersebut, dapat kita simpulkan bahwa ekonomi Islam sangat memperhatikan urusan perdagangan dan sektor ril. Aspek inilah yang kurang mendapatkan banyak perhatian dalam sistem ekonomi non-Islam. Jika kita mau mengambil ibrah dari ayat al-Qur’an ke 275 surat al-Baqaarah, tentu saja kita akan paham perbedaan antara ekonomi perdagangan dengan ekonomi perbankan. Kita juga dapat memahami perbedaan antara mudharabah dengan bunga.

Ekonomi yang tidak bertumpu pada poros jual-beli, dan hanya berputar pada money creation tidak akan menambah apapun selain dosa. Harta yang diputar dengan cara riba, tidak menambah selain beban produksi yang berlebihan dan kemalasan dalam etos kerja. Sedangkan harta yang diputar melalui jual-beli dan ZISWAF (zakat, infaq, shadaqah dan wakaf) akan menyuburkan perekonomian. Hal itu disebabkan karena jual-beli dan ZISWAF itu mengalirkan harta dan menggulirkannya di antara manusia.

Demikianlah pilar-pilar ekonomi yang harus ditegakan. Ibarat roda, pilar tersebut harus berputar dalam kehidupan kita sehari-hari. Maha Benar Allah ketika berfirman: “Allah memusnahkan riba, dan menyuburkan shadaqah.” Wallahul musta’an![]


Oleh: M. Ridho Hidayat (Sekretaris Jenderal Komunitas Ekonomi Islam Indonesia - Koneksi Indonesia)

Source: Koneksi Indonesia
Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial
Di dalam magnum opusnya yang berjudul “leading the revolution” yang sempat menjadi best seller tahun 2000, Gary Hammel, pemikir bisnis terpenting dan berpengaruh di Universitas Harvard, menandaskan akan munculnya tiga gejala besar yang akan menjadi mainstream dalam manajemen bisnis dan proyek rekayasa sosial di abad 21, yakni: 1) masa depan interaksi dan kompetisi antarkomunitas akan didominasi oleh mereka yang “mengagungkan masa lalu” dan mereka yang bersemangat “mengagas masa depan”; 2) pertarungan antar “the leading creative minority” akan berkutat di sekitar mereka yang “mengutamakan pengalaman” dan mereka yang “menekankan pentingnya hirarki imajinasi”; dan 3) pergulatan ketat akan terjadi manakala mereka yang melihat bahwa “semua realitas objektif yang terbentuk di sekitar kita terjalin dalam suasana cool in calm” dan mereka yang melihat bahwa “semua realitas objektif dan subjektif yang terjadi di sekitar kita terbentuk oleh dinamika proses yang penuh gejolak dan dalam suasana yang surut dengan perubahan yang amat cepat” berbenturan di lapangan!

What about us, telah in touch-kah kita dengan premis major di atas? Atau, akankah kita berpendapat bahwa prognosis itu terlampau berlebihan, bahkan ‘absurd’ dan ‘naif’? Atau, (jangan-jangan) alih-alih ‘pro’ dan ‘kontra’ dengan pendapat di atas, kita bahkan belum lagi menjangkaunya? Paling ekstrem, mungkin kita akan bersikap: “apa urusannya dengan kita? (emang gue pikirin!)”

Sesungguhnya, terlepas dari varian-varian ‘gugahan’ di atas, harus diakui bahwa ‘strategic environments’ kita saat ini sangat kentara mengarah kepada apa yang telah dengan jeli ditilik oleh Gary Hammel, bahwa pada saat yang sama ---para da’i, murraby, dan muharrik serta mujahidin--- memang masih tertinggal dari ‘parameter minimal’ yang harus dimiliki oleh setiap ‘trend setter’ peradaban, kebudayaan, dan moralitas sosial dalam men-transformasi-kan kehidupan, dari kehidupan yang ‘profan’ dan ‘duniawi’ kepada kehidupan yang ‘sakral’ dan ‘ukhrowi’, itu soal lain!

Masalahnya kini, sadarkah kita bahwa zeitgeist dan “kerangka situasi” da’wah yang kita hadapi dewasa ini jauh lebih pelik dan kompleks tinimbang masa-masa “dahulu”, dimana kita kerap kali bersikap ‘mendua’, bahkan ‘inkonsisten’ menyikapinya: yang semestinya kita mengeksplorasi secara cerdas, kritis, dan mencerahkan terhadap sumber rujukan dan ‘ilham masa lalu’ agar kita dapat menginjeksi dengan serum segar elan-mujahadah kita, kita malah seringkali bersikap ‘eskapis’ [terhadap tantangan masa kini] dan ‘romantis’! Tidakkah kita sadari, betapa para stratig, ideology, intelektual-mujahid, dan para teoritisi perubahan sosial ‘kelas dunia’, apapun afiliasi nilai budaya, orientasi politik dan platform ideology mereka ---mulai dari Karl Heinricht Marx dan Vladimir Ulyanov Lenin hingga Mao Ze Dong dan DN Aidit serta Tan Malaka, mulai dari Ernst Renan, Otto Bauer dan Karl Haushofer hingga Soekarno, Castro, Kemal At Taturk, Nasser dan Nehru serta Sun Yat Sen, mulai dari Minh dan Kim Il Sung hingga Ernesto Che Guevara, mulai dari Romo Paul Guitierez dan Paolo Freire, mulai dari Syeikh Jamaludin Astarabadi, Syeikh Muhammad Abduh, Allamah Rasyid Ridha, Hasan Al Bana hingga Sayyid Quthb, mulai dari Rumi dan Iqbal hingga Ali Syariati, mulai dari Moamar Qaddafy dan Maodudy, dan mulai dari Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Daud Beureuh hingga Qahhar Muzakkar, disamping Sardar, Mohammad Arkoun, Hasan Hanafi, dan Alvin Toffler serta Maximilian Weber--- menyadari betul arti penting konsep “self consciousness”, “free will/predestination” dan “creativity”, atau “reformation/innovation” sebagai ibtidaa’ yang paripurna dalam merentang sebuah kerja besar bertajuk “transformasi tamaddun”! Laa haula wa laa quwwata illaa billaah...

#kritik_oto_kritik nextREsist, 13 Juni 2015 Masehi