Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial mengorientasikan diri untuk menjadi katalisator terwujudnya Mulkiyah Allah di muka bumi, dan bersama-sama menggalang kekuatan kolektif dari potensi-potensi yang telah sejak lama berada dipangkuan Ummat Islam... Billahi Hayaatuna Wallahu Fii Hayati 'I-Mustadz'afin... Hidup Kita Bersama Allah, dan Allah Berada Dalam Kehidupan Kaum Tertindas... Inna fatahna laka fathan mubina… Yuqtalu au yaghlib !

Perang di Bulan Ramadhan

Sejarah telah mencatatnya dengan tinta emas, bahwa pada bulan Suci Ramadhan syarat dengan kesuksesan dan kemenangan gemilang yang diraih oleh Ummat Islam atas pertolongan Allah. Hal ini membuktikan bahwa Ramadhan merupakan bulan i'dad, bulan jihad, dan bulan kemenangan.

Berikut beberapa rentetan singkat peperangan sekaligus kemenangan gemilang yang terjadi pada bulan Ramadhan:

Ramadhan 2 H: Perang Badar
Ibnu Hisyam menyatakan perang ini merupakan kemenangan pertama yang menentukan kedudukan Ummat Islam dalam menghadapi kekuatan kemusyrikan dan kebatilan. Perang ini terjadi pada pagi Jum’at, 17 Ramadhan 2 H di Badar. Kemenangan lebih kurang 300 orang tentara Islam di bawah pimpinan Rasulullah Saw. ini mengalahkan lebih kurang 1000 orang tentara musyrikin Mekah.

Ramadhan 5 H: Perang Khandaq
Persiapan dilakukan dengan menggali parit (khandaq) sekeliling kota Madinah. Strategi ini tidak pernah digunakan oleh bangsa Arab. Hal ini diusulkan Salman Al-Farisy. Peperangan ini terjadi pada bulan Syawal dan berakhir pada bulan Dzulkaidah setelah pasukan muslimin berjaya memecah belah pasukan musuh.

Ramadhan 8 H: Fathul Makkah
Rasulullah Saw. keluar dari Madinah pada 10 Ramadhan dalam keadaan berpuasa. Mekah jatuh ke tangan kaum muslimin tanpa pertumpahan darah. Penaklukan itu terjadi pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

Ramadhan 9 H: Perang Tabuk
Pada tahun 629 M Rasulullah Saw. memutuskan untuk melakukan aksi preventif, yakni ekspedisi ke wilayah Tabuk yang berbatasan dengan Romawi. Setelah sampai di Tabuk, Ummat Islam tidak menemukan pasukan Bizantium ataupun seketunya.

Ramadhan 10 H: Ekspedisi Yaman
Rasulullah Saw. mengutus pasukan dibawah pimpinan Saidina Ali ra. ke Yaman dengan membawa surat Nabi. Satu suku yang berpengaruh di Yaman langsung menerima Islam dan masuk Islam pada hari itu juga. Mereka sholat berjamaah bersama Saidina Ali ra. pada hari itu.

Ramadhan 53 H
Kemenangan tentera Islam di pulau Rhodes.

Ramadhan 92 H: Pembebasan Spanyol
Paglima tentera Islam, Tariq bin Ziyad memimpin 12.000 tentera Islam berhadapan dengan tentera spanyol berjumlah 90.000 yang diketuai sendiri oleh Raja Frederick. Pada peperangan ini, untuk menambah semangat pasukannya, Tariq bin Ziyad membakarkan kapal-kapal perang mereka sebelum bertempur dengan tentera Raja Frederick. Beliau berkata, ”Sesungguhnya, syurga Allah terbentang luas di hadapan kita, dan dibelakang kita terbentangnya laut. Kamu semua hanya ada dua pilihan, apakah mati tenggelam , atau mati syahid.”

Ramadhan 129 H
Kemenangan atas Bani Abbas di Khurasan dibawah pimpinan Abu Muslim Al-Khurasany.

Ramadhan 584 H: Pembebasan Palestina
Panglima tentara Islam, Salahuddin Al-Ayyubi mendapat kemenangan besar atas tentera Salib. Tentera Islam menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh tentera Salib. Ketika bulan Ramadhan, penasihat-penasihat Salahuddin menyarankan agar dia istirahat kerana risau ajalnya tiba. Tetapi Salahuddin menjawab “Umur itu pendek dan ajal itu sentiasa mengancam”. Kemudian tentara Islam yang dipimpinnya terus berperang dan berjaya merampas Benteng Shafad yang kuat. Peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan.

Ramadhan 658 H: Perang Ain Jalut
Saat tentera Tartar memasuki Baghdad, mereka membunuh 1,8 juta kaum Muslimin. Musibah ini disambut oleh Saifudin Qutuz, pemerintah Mesir ketika itu dengan mengumpulkan semua kekuatan kaum Muslimin untuk meghancurkan tentara Tartar dan bertemu dengan mereka pada Jum’at, 6 September 1260 M di Ain Jalut. Peperangan ini turut disertai oleh isteri Sultan Saifudin Qutuz, Jullanar yang akhirnya syahid di medan pertempuran.

Ramadhan 1436 H
Perang apakah yang akan terjadi pada Ramadhan kali sekarang?
Apakah di Ramadhan kiwari Ummat Islam Bangsa Indonesia dapat menyatukan gerak dalam mewujudkan ad Dawlah al Islamiyah?
Apakah di Ramadhan saat ini kita dapat membebaskan Palestina, Iraq, Afganistan, Suriah, Ronghya dan Negeri-Negeri dimana terjadi penjajahan terhadap Ummat Islam?

Billahi Hayaatuna Wallahu Fii Hayati 'I-Mustadz'afin

Allahu Akbar…!

Pilar Pilar Ekonomi Islam

Setiap bangunan sudah seharusnya memiliki pilar yang menjadikannya mampu berdiri tegak diatas pondasi. Sebagus dan sekuat apapun pondasi suatu bangunan, ia tidak akan menjadi suatu yang berarti tanpa adanya pilar. Pilar-pilar tersebut berfungsi menyatukan dinding dan menyangga atap yang ada di atasnya. Di dalam bangunan seperti itulah, manusia dapat berteduh, tinggal dan mengambil manfaatnya.

Begitu juga dengan ekonomi Islam. Bangunan yang pondasinya adalah keagungan tauhid, kesempurnaan syariat dan kemuliaan akhlak ini, tidak akan nampak dan bermanfaat jika tidak ditegakkan pilar-pilarnya. Apa sajakah pilar-pilar itu? Tulisan ini akan mengulas secara singkat tentang pilar-pilar ekonomi Islam menurut para ahlinya di Indonesia.

Pendapat Para Ahli

Adiwarman Azwar Karim, anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia menjelaskan, terdapat tiga pilar dalam sistem ekonomi Islam. Pertama, meninggalkan seluruh unsur-unsur yang dihukumi haram menurut syariat Islam, misalnya, riba (bunga). Kedua, prinsip keseimbangan antara sektor riil dengan sektor keuangan. Menurut Adiwarman, ketidakseimbangan dalam sistem ekonomi dapat mengakibatkan bubble economy pada sistem ekonomi kapitalisme. Ketiga, prinsip proses transaksi jual-beli yang adil, tidak menguntungkan satu pihak merugikan pihak yang lain.

Sementara itu, Hendri Tanjung dalam penelitiannya berjudul “Apakah Bank Syariah Membuat Ekonomi Stabil? Suatu Pendekatan Teori dan Model Matematika serta Implikasinya” menyebutkan 3 pilar ekonomi Islam. Pilar tersebut diungkap dalam Qs Al-baqarah 275-277, yaitu : Sektor Riil (jual Beli), Lembaga Keuangan bebas Riba, dan Zakat. Penelitian ini mendapat penghargaan sebagai Juara pertama untuk kategori Peneliti Madya dalam Forum riset Perbankan Syariah V di Universitas Muslim Indonesia.

Agak berbeda dengan Hendri, Muhaimin Iqbal menjelaskan adanya 4 roda ekonomi Islam dalam bukunya ‘Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham’. Dalam buku tersebut Iqbal menyatakan bahwa kemakmuran sebagai tujuan operasional ekonomi Islam, hanya akan terwujud melalui 4 pilar ini. Pertama, alat tukar yang adil berupa uang yang stabil (dinar & dirham). Kedua, sistem pembiayaan yang bebas riba berupa kerjasama atau kontrak dagang berbentuk qirad dan syirkah. Ketiga, pedagang yang amanah dan pasar yang terbuka (fair trade bukan free trade). Keempat, profesionalisasi pengelolaan distribusi harta (melalui zakat, infaq, shadaqah dan wakaf).

Sektor Ril versus Riba
Dari pendapat-pendapat tersebut, dapat kita simpulkan bahwa ekonomi Islam sangat memperhatikan urusan perdagangan dan sektor ril. Aspek inilah yang kurang mendapatkan banyak perhatian dalam sistem ekonomi non-Islam. Jika kita mau mengambil ibrah dari ayat al-Qur’an ke 275 surat al-Baqaarah, tentu saja kita akan paham perbedaan antara ekonomi perdagangan dengan ekonomi perbankan. Kita juga dapat memahami perbedaan antara mudharabah dengan bunga.

Ekonomi yang tidak bertumpu pada poros jual-beli, dan hanya berputar pada money creation tidak akan menambah apapun selain dosa. Harta yang diputar dengan cara riba, tidak menambah selain beban produksi yang berlebihan dan kemalasan dalam etos kerja. Sedangkan harta yang diputar melalui jual-beli dan ZISWAF (zakat, infaq, shadaqah dan wakaf) akan menyuburkan perekonomian. Hal itu disebabkan karena jual-beli dan ZISWAF itu mengalirkan harta dan menggulirkannya di antara manusia.

Demikianlah pilar-pilar ekonomi yang harus ditegakan. Ibarat roda, pilar tersebut harus berputar dalam kehidupan kita sehari-hari. Maha Benar Allah ketika berfirman: “Allah memusnahkan riba, dan menyuburkan shadaqah.” Wallahul musta’an![]


Oleh: M. Ridho Hidayat (Sekretaris Jenderal Komunitas Ekonomi Islam Indonesia - Koneksi Indonesia)

Source: Koneksi Indonesia

transform !

Di dalam magnum opusnya yang berjudul “leading the revolution” yang sempat menjadi best seller tahun 2000, Gary Hammel, pemikir bisnis terpenting dan berpengaruh di Universitas Harvard, menandaskan akan munculnya tiga gejala besar yang akan menjadi mainstream dalam manajemen bisnis dan proyek rekayasa sosial di abad 21, yakni: 1) masa depan interaksi dan kompetisi antarkomunitas akan didominasi oleh mereka yang “mengagungkan masa lalu” dan mereka yang bersemangat “mengagas masa depan”; 2) pertarungan antar “the leading creative minority” akan berkutat di sekitar mereka yang “mengutamakan pengalaman” dan mereka yang “menekankan pentingnya hirarki imajinasi”; dan 3) pergulatan ketat akan terjadi manakala mereka yang melihat bahwa “semua realitas objektif yang terbentuk di sekitar kita terjalin dalam suasana cool in calm” dan mereka yang melihat bahwa “semua realitas objektif dan subjektif yang terjadi di sekitar kita terbentuk oleh dinamika proses yang penuh gejolak dan dalam suasana yang surut dengan perubahan yang amat cepat” berbenturan di lapangan!

What about us, telah in touch-kah kita dengan premis major di atas? Atau, akankah kita berpendapat bahwa prognosis itu terlampau berlebihan, bahkan ‘absurd’ dan ‘naif’? Atau, (jangan-jangan) alih-alih ‘pro’ dan ‘kontra’ dengan pendapat di atas, kita bahkan belum lagi menjangkaunya? Paling ekstrem, mungkin kita akan bersikap: “apa urusannya dengan kita? (emang gue pikirin!)”

Sesungguhnya, terlepas dari varian-varian ‘gugahan’ di atas, harus diakui bahwa ‘strategic environments’ kita saat ini sangat kentara mengarah kepada apa yang telah dengan jeli ditilik oleh Gary Hammel, bahwa pada saat yang sama ---para da’i, murraby, dan muharrik serta mujahidin--- memang masih tertinggal dari ‘parameter minimal’ yang harus dimiliki oleh setiap ‘trend setter’ peradaban, kebudayaan, dan moralitas sosial dalam men-transformasi-kan kehidupan, dari kehidupan yang ‘profan’ dan ‘duniawi’ kepada kehidupan yang ‘sakral’ dan ‘ukhrowi’, itu soal lain!

Masalahnya kini, sadarkah kita bahwa zeitgeist dan “kerangka situasi” da’wah yang kita hadapi dewasa ini jauh lebih pelik dan kompleks tinimbang masa-masa “dahulu”, dimana kita kerap kali bersikap ‘mendua’, bahkan ‘inkonsisten’ menyikapinya: yang semestinya kita mengeksplorasi secara cerdas, kritis, dan mencerahkan terhadap sumber rujukan dan ‘ilham masa lalu’ agar kita dapat menginjeksi dengan serum segar elan-mujahadah kita, kita malah seringkali bersikap ‘eskapis’ [terhadap tantangan masa kini] dan ‘romantis’! Tidakkah kita sadari, betapa para stratig, ideology, intelektual-mujahid, dan para teoritisi perubahan sosial ‘kelas dunia’, apapun afiliasi nilai budaya, orientasi politik dan platform ideology mereka ---mulai dari Karl Heinricht Marx dan Vladimir Ulyanov Lenin hingga Mao Ze Dong dan DN Aidit serta Tan Malaka, mulai dari Ernst Renan, Otto Bauer dan Karl Haushofer hingga Soekarno, Castro, Kemal At Taturk, Nasser dan Nehru serta Sun Yat Sen, mulai dari Minh dan Kim Il Sung hingga Ernesto Che Guevara, mulai dari Romo Paul Guitierez dan Paolo Freire, mulai dari Syeikh Jamaludin Astarabadi, Syeikh Muhammad Abduh, Allamah Rasyid Ridha, Hasan Al Bana hingga Sayyid Quthb, mulai dari Rumi dan Iqbal hingga Ali Syariati, mulai dari Moamar Qaddafy dan Maodudy, dan mulai dari Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Daud Beureuh hingga Qahhar Muzakkar, disamping Sardar, Mohammad Arkoun, Hasan Hanafi, dan Alvin Toffler serta Maximilian Weber--- menyadari betul arti penting konsep “self consciousness”, “free will/predestination” dan “creativity”, atau “reformation/innovation” sebagai ibtidaa’ yang paripurna dalam merentang sebuah kerja besar bertajuk “transformasi tamaddun”! Laa haula wa laa quwwata illaa billaah...

#kritik_oto_kritik nextREsist, 13 Juni 2015 Masehi

Revolusi Cabe Rawit

Dari sesuatu yang diam tidak bergerak berubah menuju sesuatu yang bebas tidak terikat satu aturan, kecuali kepada transferensi yang diterjemahkan menjadi validitas historis para pendahulu. Kira-kira obrolan lepas inilah yang tadi terkemuka bersama beberapa rekan disela sisa letih di Sabtu sore, di perbatasan Selatan Jakarta dengan Kota Tangerang Selatan. Tak lagi statis, tapi anarkis. Ketika pergerakan yang diharapkan ideal dengan mengacu pada realistas obyektif, sedari tahun paska runtuhnya rezim fascis Soeharto, gerakan menggalang NKA NII yang dirasakan oleh para kader-kader lapis kedua mengalami demoralisasi yang simetris dengan semakin “cairnya” soliditas issue di tengah UIBI yang tak lagi terorganisir secara apik.

Masing-masing pihak seakan memiliki lingkaran yang tak tertaut pada lingkaran lainnya. Relevansi nilai pada substansi pokok agenda kejuangan yang mengadaptasi 7 agenda strategis Majelis Islam seakan hanyalah menjadi prasasti belaka. Apalagi jika agenda kejuangan dihadapkan dengan parameter pengelolaan kepengurusan ummat yang termanifestasikan dalam Pedoman Darma Bakti, sungguh jauh panggang dari api.

Ruang-ruang pada lingkaran lebih terkesan terisi oleh spekulasi-hipotetik, hanya menjadi romansa sejarah yang melahirkan “tuan-tuan” dengan “klaim kepemilikan sejarah”. Das Sollen yang didemontrasikan oleh para pendahulu dengan duka dan nestapa, seakan hanya menjadi “pesan sponsor” untuk mengisi prime time pada “ritual” tahunan, seperti 12 Syawal atau 7 Agustus.  

Semangat revolusioner, pembebasan, dan kemerdekaan sejati yang lahir dari rahim Proklamasi 7 Agustus 1949 sejatinya harus menggerakan “tradisi” kejuangan secara mutualistik. Karena tradisi adalah elemen kritis yang menemukan titik pijakan di setiap generasi, dan tradisi memiliki sifat dinamis interpretative dalam mentransformasikan agenda kejuangan secara objektif. Tak terus berputar dalam labirin romantisme.

Dari hal-hal yang terkemuka pada obrolan tersebut didapat “sesuatu” yang menggelitik, yakni, “rekonstruksi tradisi dengan melakukan interpretasi kritis dan kritik historis kekinian yang mencerminkan apresiasi progresif terhadap 7 agenda strategis Majelis Islam”. Hmmm (?!)

Wallahualam....

#kritik_oto_kritik nextREsist

Jilbab Lebar dan Eksklusivitas

Ukhuwah

Tidak dipungkiri bahwa setiap orang terikat dengan orang lain, seperti yang selalu diungkapkan pada setiap kali pelajaran Sosiologi dimulai: Manusia adalah makhluk sosial. Maka, pada setiap gerombolan manusia (dua orang atau lebih), selalu ada setidaknya satu hal yang menyatukan.
Kelompok belajar disatukan oleh keinginan untuk belajar lebih daripada yang dipelajari di sekolah/kampus. Mereka yang tidak berkeinginan belajar lebih lanjut, tentu saja, tidak akan bergabung dengan kelompok ini.  Orang-orang yang tergabung dalam kategori anak gaul, pergi clubbing atau nangkring di kafe dan mall dengan sesama mereka yang senang dengan aktivitas tersebut. Mereka yang tidak senang dengan aktivitas tersebut juga tidak akan mengikuti kelompok ini.

P 

‘Satu hal’ ini dapat beragam, tidak hanya berupa ketertarikan utama. Misalnya saja dari kedua kelompok di contoh sebelumnya, seseorang di kelompok belajar dapat juga dekat dengan si anak gaul karena beraktivitas di satu divisi organisasi yang sama dan memiliki bahasan yang sama dalam hal tersebut. Di antara kelompok-kelompok besar, ada sangat banyak faktor yang mendukung kedekatan-kedekatan dalam skala yang lebih kecil, bahkan skala individu.


Pun, gerombolan para perempuan berkerudung lebar dan laki-laki berjenggot dan celana cungkring. Satu hal yang menyatukan orang-orang ini adalah ketertarikan mereka terhadap segala sesuatu mengenai keyakinannya, terhadap Tuhannya.  Terlepas dari landasan awal setiap individunya dalam ‘memilih busana’, pada akhirnya bukan karena pakaiannya-lah gerombolan ini terbentuk. Pemilihan pakaian ini adalah output dari keyakinan dan pemahamannya, yang tentu saja berawal dari ketertarikannya—ketertarikan untuk menjadi manusia yang baik, ketertarikan untuk taat pada Tuhannya.

Dari kelompok besar ini pun ada banyak ketertarikan sekunder dan tersier yang memisahkannya menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil, seperti perkara ideologi, fikih, metode pergerakan, dan sebagainya.

Dengan demikian, jelaslah terlihat bahwa eksklusivitas bukanlah permasalahan pakaian, bukan juga milik para aktivis dakwah saja. Setiap ketertarikan dan cita-cita memiliki kelompok eksklusifnya masing-masing. Hal ini dinamakan ukhuwah.

lucu
Eksklusivitas: Antara Naluri dan Degradasi

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Ketahuilah satu hal. Jilbab adalah bentuk ketaatan. Dengan begitu banyaknya yang berjilbab tapi telanjang, berjilbab rapi adalah suatu prestasi ketaatan, satu dari sekian banyak yang mesti dikerjakan. Menutupi dada, longgar, tidak transparan, dan tidak membentuk. Betapa risihnya jika (maaf) dada menonjol dan dipandangi banyak orang, paha dan bagian tubuh belakang menjiplak dan dipandangi banyak orang, sementara rambut tertutup kain. Bisa jadi semua hal itu adalah hal yang berat, terlihat dari berapa banyak muslimah yang berani mengambil risiko tampak aneh.

Jilbab lebar kemudian menjadi identitas, bahwa “Saya ingin taat.” Kerinduan berada di lingkungan dan negeri yang taat pada Alloh inilah yang menjadi pemicu senyum dan sapaan hangat dari para pelakunya, meski tidak saling kenal. Karena ini pula, fenomena eksklusivitas terjadi.

Kesenangan bergerombol dan beraktivitas dalam kelompok masing-masing ini wajar saja jika tidak mengabaikan peran sosial lainnya. Namun, tidak sedikit kelompok yang terbentuk akhirnya menjadi zona aman dan nyaman bagi individu-individunya. Bicara iman hanya dalam lingkarannya, menghindari bicara iman dan Islam pada kelompok yang berbeda. Jumlah dalam kelompok semakin lama semakin sedikit, kemudian dalil keterasingan yang diungkapkan di awal tadi menjadi pembenaran bagi ketakutan-ketakutannya. “Wajar kami hanya sedikit, sebab sunnatullahnya begitu.

Apa yang ditakutkan ketika membicarakan iman pada orang-orang di sekitar? Banyak aktivis dakwah saat ini tidak merasakan rasanya ditolak mentah-mentah, dijauhi, dan dikucilkan; menghindari berbicara Islam pada orang-orang yang anti-Islam karena takut tidak bisa menjawab disebabkan ilmunya yang masih segitu-segitu saja; tidak berkeinginan mencari tahu lebih jauh dan merasa cukup dan merasa benar dengan apa yang dimilikinya.

Begitulah, yang dinamakan aktivis dakwah hari ini hanya sebatas halaqoh dan dauroh, orasi dan retorika, serta tombol share di media sosial.

Kerja Dakwah

Ya, salah satu pekerjaan bagi mereka yang ingin berada tetap dalam ketaatan adalah dakwah,sebagai wujud keinginan dan cita-cita untuk meraih syurga, menggapai gelar Syahid(ah), dan menegakkan Kalimat Tauhid yang mereka yakini. Cara apa pun mereka tempuh. Ceramah, menulis, berdiskusi, bermusik, membuat film-film bernuansa syiar, bahkan dengan sebanyak-banyaknya share postingan-postingan tentang Islam di media sosial.

Eksklusivitas yang menjadi zona aman adalah salah satu halangan besar, di tengah doktrinasi toleransi keyakinan (bahwa setiap orang berhak menentukan sendiri kadar keimanannya), individualisme (“Loe ya loe, gue ya gue,”), hak asasi, wacana multikulturalisme, bahkan ideologi. Tegaknya Islam menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa ini, sedangkan meninggikan kalimat Tauhid adalah kewajiban bagi setiap orang yang mengklaim dirinya sebagai muslim.

Nah, bagaimana bisa meninggikan kalimat Tauhid jika para pemeluknya hidup dalam kelompoknya sendiri?

“If Rasulallah (salAllahu ‘alayhi wa sallam) didn’t engage with the non-Muslims of Makkah, you and I would not be Muslim today. I came to know about Islam because my father is a Muslim, and his father was a Muslim, and his father was a Muslim, and his father was a Muslim, and his father was a Buddhist who converted to Islam. Someone gave my great-great-great-grandfather dawah in the form of love, compassion, respect and courtesy and didn’t label him as a kafir or a waste of time.” (Nourman Ali Khan, pendiri Bayyinah Institute)

Kerja dakwah adalah mengajak mereka yang belum mengerti menjadi mengerti, mengajak mereka yang belum bergerak untuk bergerak, mengajak mereka yang belum bercita-cita menjadi bercita-cita Islam. Utamanya, mengajak mereka yang ingkar menjadi beriman.

Lalu, bagaimana kapasitas muslim dan muslimah saat ini untuk menjalani ini semua, jika ditolak saja takut, depresi dijauhi dan dikucilkan, enggan berbicara Islam pada orang-orang yang anti-Islam, takut tampak bodoh, dan merasa benar dengan apa yang ada?

Berbaur, tapi tidak lebur. Bukan berarti mengekang hidayah hanya untuk diri kita sendiri. Sebab, jika kita melihat lebih luas dan membuka pikiran, setiap orang berkeinginan untuk secara utuh beriman pada Tuhannya. Buka diri dan raih mereka, (dengan demikian) mengukuhkan diri kita. Kita bisa bicara iman dengan siapa saja.


Bandung, 29 April 2015, 18.44
Introspeksi diri. Otokritik.

By: Hana Muwahhida

Situs Islam diblokir, siapa dibalik BNPT?



Mustofa Nahra : Mengapa Situs Islam Liberal & Syiah Yang Menebar Kebencian Tidak Diblokir BNPT ?



sumber: antiliberalnews


AntiLiberalNews - Tokoh muda Muhammadiyah sekaligus pengamat terorisme, Mustofa Nahrawardaya, mempertanyakan kebijakan penutupan situs-situs media Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) atas perintah BNPT.

Menurut Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris, website-website yang memicu pertengkaran, kebencian, memelintir ayat al Quran harus kita tutup karena menyebabkan radikal.

Sontak, Mustofa Nahra langsung bertanya, “Jika website-website yang memicu pertengkaran, kebencian, memelintir ayat al quran harus ditutup karena menyebabkan radikalisasi, mengapa situs Islam Liberal tidak ditutup,” tanya Mustofa dikutip AntiLiberalNews dari acara LIVE TV ONE “Lha Media Islam Kok Diblokir?, Rabu pagi, (01/03)..

“Nah website Islam liberal itu kurang apa itu menyesatkan orang indonesia, maksud saya begitu, orang Islam liberal ini lebih sesat, mereka mengadu domba antar umat Islam , antar firqoh , antar mahdzab, antar aliran, tapi kok dibiarkan saja, lanjutnya berapi-api.

Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) itu meminta agar BNPT agar tidak sembarangan menggeneralisr atau menerapkan standar ganda. “Makanya Prof jangan menggeneralisir website yang menebar kebencian sebagai radikal, nah sekarang kenapa JIL ini gak di panggil, panggil atau blokir dulu (situsnya-red).”

Disaat Direktur Deradikalisasi mau berdalih, Mustofa melanjutkan, “Jangan kemudian yang Islam-islam lurus ini anda blokir, yang sesat malah tidak anda blokir.”

“Lha ini kebalik, BNPT jangan terkesan, ikut memperkeruh persoalan umat ini, merusak, BNPT harusnya meluruskan, gitu bro, terang Mustofa.

Mustafa mengingatkan jangan sampai' kelompok Syiah yang bertujuan merebut negara justru memakai tangan BNPT untuk menutup situs-situs media Islam. “Pak prof, di semua negara, saat ini milisi syiah houthi di yaman lagi berkembang, mereka ingin merebut negara, itulah yang berbahaya, jangan yang tidak berbahaya anda blokir,” tegasnya.

“Nanti malah akan ada pertanyaan siapa sebenarnya di belakang BNPT ini,” pungkas Mustofa.

Red : Maulana Mustofa


* Kabar Indonesia Pagi TVOne




Kuasa Wacana, Pengetahuan dan Kekuasaan

Dalam salah satu bukunya yang berjudul ADL (Anti-Defamation League), Censors of the Universe, Inayet Nahvi memusatkan perhatiannya yang besar terhadap kuasa wacana yang mempengaruhi keberlangsungan pola pikir masyarakat dunia. ADL sebagai topik utama dalam bukunya merupakan kumpulan aktivis pro-zionis di Amerika yang memusatkan kegiatannya pada propaganda melalui pers untuk mendukung Zionisme dan menangkis semua berita yang merugikan Israel dan Zionisme.

Kerja-kerja pencitraan yang dilakukan ADL dengan jaringan persnya di seluruh dunia membuahkan sukses legitimasi opini atas segala yang dilakukan Israel dalam memerangi “terorisme” pejuang Palestina. Demikian pula apa-apa yang dilakukan Presiden George W. Bush sejak September Attack, semua menjadi tampak sah dengan kerja-kerja ADL. (Fillah, p. 35-37)

Dalam sejarah, kuasa wacana selalu memegang peranan penting yang menentukan arah perjalanan suatu masyarakat. Bahkan jauh sebelum adanya pers, tercatat Fir’aun sang penguasa tiran telah terlebih dahulu berhasil membangun kuasa wacana yang berpihak sepenuhnya pada dirinya. Kemudian, kelihaiannya dalam bermain bahasa menjadi panutan para penguasa tiran sekarang ini.
Berangkat dari pemahaman bahwa di dalam berbagai wacana, ada relasi kekuasaan tertentu yang menentukan formasi wacana itu sendiri, serta bentuk-bentuk subjektivitas yang ada di dalamnya. Sehingga, diperlukan adanya sebuah cara untuk mendeteksinya.

Dalam buah pikir termasyurnya, Foucault membentangkan sebuah cara pandang baru yang digunakan untuk menjelaskan relasi yang tak tampak di balik berbagai wacana yaitu relasi kekuasaan. Cara pandang tersebut adalah genealogi.

Dengan cara pandang demikian, sebuah relasi yang menentukan arah, bentuk, dan intensitas kekompleksitasannya, yaitu relasi kekuasaan (power relation) akan dengan mudah terdeteksi dengan baik.

Foucault pun melihat adanya penggunaan ruang dalam kajian diskursif yang lebih luas. Penggunaan ruang sangat ditentukan oleh model diskursif yang melandasinya. Ia tidak melihat keberpisahan antara penggunaan ruang dan dan bentuk-bentuk kekuasaan yang beroperasi di dalam setiap wacana. Ruang merupakan sebuah wadah bagi beroperasinya kekuasaan, yang selalu menentukan gerak langkah sebatang tubuh manusia dalam proses sosial di dalamnya.

Ide utama dalam ide Foucault adalah perdebatan panjang yang terpusat di seputar relasi antara diskursus dan kekuasaan, serta peran bahasa di dalamnya. Foucault melihat, bahwa pada setiap diskursus terdapat relasi yang tidak dapat dipisahkan antara ungkapan diskursus, pengetahuan yang melandasinya, serta relasi kekuasaan yang beroperasi di baliknya. Dengan demikian, setiap diskursus tidak dapat dipisahkan dari relasi kekuasaan yang tersembunyi di baliknya, yang merupakan produk dari praktik kekuasaan.

Kekuasaan yang dimaksud oleh Foucault adalah kekuasaan yang plural, yaitu kekuasaan yang tidak berpusat/sentralistik, yang tumbuh dari berbagai ruang periferal, yang ada dimana-mana.
Contoh aplikatifnya adalah konsep kekerasan simbol di dalam institusi pendidikan menciptakan mekanisme sosial, yang di dalamnya relasi pengetahuan (knowledge relation) saling bertautan dengan relasi kekuasaan (power relation). Sebuah kekuasaan seperti kapitalisme, berupaya melaggengkan posisi dominannya dengan cara mendominasi institusi pendidikan, bahasa yang digunakan, tanda-tanda yang dipertukarkan, citra-citra yang diproduksi, pengetahuan yang dihasilkan, serta interpretasi terhadap tanda, citra, pengetahuan yang sesungguhnya sangat kaya tersebut, ke dalam sebuah dimensi tunggal, yaitu dimensi komersial.

Dalam relasi mikro antara dosen sebagai pengajar dan mahasiswa sebagai yang diajar di dalam institusi pendidikan, kekerasan simbol terjadi ketika orang yang didominasi (mahasiswa) menerima konsep, ide, gagasan, citra, kepercayaan, prinsip, atau pengetahuan dalam bentuknya yang mendominasi. Di dalam proses dominasi tersebut sebetulnya telah terjadi sebuah bentuk pemaksaan ideologis yang sangat halus, akan tetapi orang yang didominasi (mahasiswa) tidak sadar telah dicetak lewat institusi pendidikan untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan ideologi yang melandasi institusi pendidikan tersebut.

Terkait dengan cara pandang geneologi yang telah kita bahas di awal tulisan ini, kita dapat dengan bebas membongkar struktur kemungkinan pemahaman. Selain tu, kita dapat menelanjangi diri sendiri atau kritik ontologis diri sendiri (critical ontologi of ourselves), dalam rangka membongkar berbagai bentuk relasi kekuasaan di baliknya. Hal yang dtelanjangi antara lain sumber awal (origin), fungsi permulaan, konteks lingkungan, landasan kehendak, dan relasi kekuasaan di balik sebuah pengetahuan, yang selama ini ditutupi, disembunyikan, atau dibungkam. Pada akhirnya, hal tersebut kemudian dapat menampakkan segala sesuatu yang sebelumnya disembunyikan untuk kemudian diperbaiki ke arah yang lebih baik.

Akhirnya, kita kembali diingatkan dengan buku Seno Gumira Ajidharma yang berjudul Ketika Pers Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Dengan sastra kita bisa memerangi kuasa wacana sang tiran pada sisi tumpu yang lain. Paling tidak, kita telah berani mengatakan kebenaran pada semesta lewat sastra.



Tami Karisma
Bandung, 30 Agustus 2009


DAFTAR PUSTAKA:
Con Davis, Robert. 1986. Contemporary Literary Criticism, Literary and Cultural Studies. New York & London: Longman.
Fillah, Salim. 2006. Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media.
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Jakarta & Bandung: Jalasutra.